top of page
Search

PBO Embedded dan Relevansi Pemrograman Berorientasi Objek dalam Sistem Tertanam



PBO Embedded: Ketika Embedded System Butuh Lebih dari Sekadar Bahasa C

Selama bertahun-tahun, bahasa C menjadi tulang punggung dunia embedded system. Alasannya cukup masuk akal yaitu ringan, efisien, dan memberikan kendali langsung atas hardware. Tapi seiring waktu, proyek embedded makin rumit. Satu perangkat bisa mengelola puluhan modul sekaligus sensor, komunikasi Wi-Fi, logika kontrol, antarmuka pengguna dan tiba-tiba kode prosedural yang ditulis bertahun-tahun lalu mulai terasa berat untuk dirawat.


Di sinilah Pemrograman Berorientasi Objek (PBO) mulai menarik perhatian para pengembang embedded. Bukan karena PBO lebih trendi, tapi karena ada kebutuhan nyata: bagaimana menyusun sistem yang kompleks tanpa membuat kode menjadi kumpulan fungsi yang saling bergantung dan sulit ditelusuri.


Seperti yang dibahas Robson Martins dalam artikelnya di Medium, paradigma OOP memungkinkan pengembang memodelkan sistem melalui interaksi antar objek yang masing-masing memiliki data dan perilakunya sendiri sebuah pendekatan yang jauh lebih terstruktur dibanding model prosedural konvensional. Tentu saja, pertanyaannya bukan soal apakah PBO itu bagus secara teori. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: apakah ia benar-benar bisa bekerja dengan baik di lingkungan embedded yang serba terbatas? Jawabannya, seperti banyak hal di teknik, bergantung pada konteks.


Empat Pilar PBO dan Artinya bagi Pengembang Embedded

Buku Ajar Pemrograman Berorientasi Objek dari Umsida Press (Indahyanti & Astutik, 2025) menjelaskan bahwa PBO berdiri di atas empat konsep utama: enkapsulasi, abstraksi, pewarisan, dan polimorfisme. Keempat hal ini bukan sekadar jargon akademik di konteks embedded system, masing-masing punya implikasi praktis yang cukup konkret.


Enkapsulasi memungkinkan pengembang menyembunyikan detail internal sebuah modul. Misalnya, saat menulis class untuk mengelola koneksi Wi-Fi pada ESP32, pengguna class tersebut tidak perlu tahu bagaimana proses inisialisasi NVS flash atau pengaturan event loop berjalan di belakang layar mereka cukup memanggil wifi.init() dan wifi.connect(). Ini bukan hanya soal estetika kode, tapi soal keandalan: perubahan pada implementasi internal tidak akan mengganggu bagian lain dari sistem.


Abstraksi berjalan satu langkah lebih jauh. Dengan membuat antarmuka yang jelas antara hardware dan logika aplikasi, pengembang bisa menulis kode yang lebih mudah dipindahkan dari satu platform ke platform lain. Pewarisan mempermudah pembuatan varian dari komponen yang sudah ada tanpa perlu menulis ulang dari nol kelas robot mobile, misalnya, bisa mewarisi semua kemampuan dasar dari kelas robot generik, lalu menambahkan metode turn_left() dan turn_right() sebagai ekstensi. Sedangkan polimorfisme membuat sistem lebih fleksibel: satu antarmuka yang sama bisa menangani berbagai jenis perangkat secara transparan.


EmbeddedNesia dalam artikelnya tentang PBO dengan C++ mencontohkan perbedaan antara struct dan class secara langsung lewat kode robot sederhana. Struct hanya menampung data, sedangkan class juga membawa perilaku fungsi move_robot() dan stop_robot() menjadi bagian dari objek itu sendiri, bukan fungsi terpisah yang harus dikelola secara manual oleh programmer.


Kenapa PBO Embedded Masuk Akal untuk Proyek Berskala Besar

PBO embedded memberikan nilai nyata ketika proyek mulai tumbuh dan tim pengembangannya pun berkembang. Dalam proyek kecil dengan satu atau dua file, perbedaan antara C prosedural dan C++ berorientasi objek mungkin terasa tipis. Tapi begitu sistem terdiri dari puluhan modul yang dikerjakan oleh beberapa orang sekaligus, struktur berbasis objek menjadi penyelamat. Martins menjelaskan setidaknya ada beberapa keunggulan utama PBO yang terasa signifikan di skala besar.


Pertama, modularitas setiap komponen dikembangkan secara mandiri dan dapat diuji terpisah, sehingga bug lebih mudah diisolasi. Kedua, reusabilitas class yang sudah dibuat untuk satu proyek bisa digunakan ulang di proyek berikutnya tanpa banyak modifikasi. Ketiga, kemudahan evolusi ketika ada permintaan fitur baru, pengembang bisa menambahkan class turunan atau mengimplementasikan antarmuka baru tanpa harus menyentuh bagian kode yang sudah berjalan stabil.


Industri otomotif, perangkat medis, sistem avionik, hingga otomasi industri sudah lama mengadopsi pendekatan ini. Unit kontrol elektronik (ECU) di kendaraan modern, sistem pemantauan jantung di rumah sakit, bahkan konsol game semuanya memanfaatkan PBO untuk mengelola kompleksitas yang tidak mungkin ditangani dengan kode prosedural murni. Ini bukan tren semata; ini kebutuhan nyata dari sistem yang harus terus berkembang tanpa merusak apa yang sudah ada.


Contoh Implementasi: Class WiFi di ESP32 dengan ESP-IDF

Salah satu contoh implementasi yang cukup ilustratif datang dari proyek ESP32 menggunakan framework ESP-IDF. Alih-alih menulis semua logika koneksi Wi-Fi secara prosedural dalam satu fungsi panjang, pendekatan OOP membungkus seluruh proses itu ke dalam sebuah class bernama WiFi. Class tersebut menyimpan SSID dan password sebagai atribut privat, mengekspos dua metode publik init() dan connect() dan menyembunyikan seluruh detail implementasi dari bagian lain kode.


Di fungsi app_main(), yang setara dengan titik masuk program, pengembang cukup menginisialisasi objek WiFi dengan kredensial jaringan, memanggil init() untuk mempersiapkan stack Wi-Fi, lalu memanggil connect() untuk memulai koneksi. Bersih, terbaca, dan mudah diuji. Yang menarik dari pendekatan ini adalah skalabilitasnya.


Jika kelak proyek membutuhkan dukungan untuk beberapa titik akses Wi-Fi, pengembang bisa membuat class turunan tanpa menyentuh implementasi asal. Jika ada pergantian platform dari ESP32 ke chip lain, hanya bagian implementasi class yang perlu diubah, sedangkan antarmuka publiknya tetap konsisten. Hal ini yang membuat PBO relevan bukan hanya untuk skala demo, tapi juga untuk sistem yang benar-benar digunakan di produksi.


Gambar:  Embedded  sistem
Sumber: inca.ac.id

Tantangan yang Harus Dihadapi dengan Jujur

Jujur saja, PBO di embedded system bukan tanpa beban. Ada beberapa tantangan yang perlu dipahami sebelum memutuskan untuk menggunakannya secara menyeluruh. Pertama, overhead sumber daya. Dibanding C prosedural murni, C++ dengan OOP membawa beban tambahan penggunaan memori yang lebih besar akibat representasi kelas, serta potensi ketidakpastian waktu eksekusi dari virtual method calls dan fitur dinamis lainnya. Untuk mikrokontroler kelas bawah dengan RAM puluhan kilobyte dan clock di bawah 100 MHz, overhead ini bisa terasa cukup signifikan.


Kedua, alokasi memori dinamis. Penggunaan operator new dan delete yang merupakan bagian natural dari OOP berpotensi menyebabkan fragmentasi heap dalam sistem yang berjalan lama. Banyak panduan embedded menyarankan untuk meminimalkan atau bahkan menghindari alokasi dinamis, dan menggantinya dengan alokasi statis yang lebih dapat diprediksi.


Ketiga, kompleksitas desain yang berlebihan. Ada godaan terutama bagi yang baru berkenalan dengan OOP untuk mengabstraksikan segalanya. Terlalu banyak layer hierarki kelas justru membuat sistem sulit di-debug dan sulit dipahami oleh anggota tim baru. Keseimbangan antara abstraksi yang membantu dan abstraksi yang memperumit adalah seni tersendiri yang perlu diasah.


Beberapa strategi yang disarankan untuk merespons tantangan ini antara lain: batasi penggunaan fitur dinamis C++, manfaatkan template untuk pemrograman waktu kompilasi sehingga overhead dipindahkan dari runtime ke tahap build, gunakan library yang dioptimalkan untuk embedded, dan rancang hierarki kelas yang dangkal namun bermakna.


PBO di Embedded: Pilihan Strategis, Bukan Sekadar Mengikuti Arus

Perdebatan antara C dan C++ di dunia embedded mungkin tidak akan pernah selesai sepenuhnya dan memang tidak perlu. Keduanya memiliki tempatnya masing-masing. Tapi satu hal yang sulit dibantah: saat kompleksitas sistem embedded terus bertumbuh, pendekatan berbasis objek memberikan fondasi yang lebih kokoh untuk pengembangan jangka panjang.


PBO bukan jaminan bahwa kode akan sempurna. Ia adalah alat dan seperti alat lainnya, efektivitasnya bergantung pada cara penggunaannya. Pengembang yang memahami empat pilar PBO secara mendalam, sadar akan keterbatasan platform targetnya, dan tahu kapan harus berhenti mengabstraksikan sesuatu, akan mendapat manfaat terbesar dari pendekatan ini.


Bagi mahasiswa atau pengembang yang baru mulai menjelajahi dunia embedded system, memahami PBO bukan sekadar persiapan untuk mengerjakan proyek akademik. Ini adalah investasi keterampilan yang relevan di industri nyata dari perangkat IoT rumahan hingga sistem avionik yang menuntut keandalan tinggi. Semoga bermanfaat dan selamat berkarya!


PT. Karya Merapi Teknologi

 

Follow sosial media kami dan ambil bagian dalam berkarya untuk negeri!

 

Sumber :

Comments


Kami fokus dalam mendukung IoT Enthusiast untuk berkarya dan menghasilkan solusi teknologi, dari dan untuk negeri. Dalam perjalanannya, kami percaya bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa.

Phone: +62 813-9666-9556

Email: contact@kmtech.id

Location: Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55752

RESOURCES

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn

© 2023 by KMTek

bottom of page