top of page
Search

Memahami Kontrol PID: Panduan Dasar untuk Pemula yang Ingin Terjun ke Dunia Otomasi


Gambar: ilustrasi sistem kerja PID
Sumber: wevolver.com

Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana AC di ruanganmu tahu kapan harus berhenti bekerja? Atau bagaimana mesin industri bisa menjaga tekanan dan suhu tetap stabil selama berjam-jam tanpa ada orang yang terus mengawasinya? Di balik semua itu, hampir selalu ada satu teknologi yang bekerja diam-diam: PID Controller. Bagi yang baru mengenal dunia otomasi atau teknik elektro, istilah ini mungkin terdengar asing dan rumit. Padahal kalau dipahami dari dasarnya, konsep ini sebenarnya cukup logis bahkan bisa dianalogikan dengan kebiasaan sehari-hari kita.


Sistem Loop Terbuka vs Loop Tertutup: Fondasi dari Kontrol PID

Sebelum bicara soal kontrol PID, penting untuk memahami dua jenis sistem kontrol yang mendasarinya. Yang pertama adalah sistem loop terbuka. Dalam sistem ini, keluaran tidak dikontrol karena tidak ada umpan balik yang memberi tahu apakah tujuan sudah tercapai atau belum. Bayangkan mesin pengering pakaian yang hanya bekerja selama waktu yang sudah ditentukan tidak peduli apakah baju di dalamnya sudah kering atau belum. Itulah sistem loop terbuka. Sederhana, tapi terbatas.


Yang kedua adalah sistem loop tertutup. Di sini, sistem memiliki jalur umpan balik yang terus membandingkan kondisi aktual dengan nilai yang diinginkan. Kalau ditambahkan sensor kelembaban pada pengering tadi, dan pengering otomatis berhenti ketika pakaian sudah benar-benar kering itu sudah menjadi sistem loop tertutup. Lebih kompleks, tapi hasilnya jauh lebih andal.


PID adalah contoh dari sistem loop tertutup. Ia bekerja dengan cara menghitung selisih antara nilai yang diinginkan (setpoint) dengan nilai aktual dari proses yang sedang berjalan. Selisih inilah yang disebut sinyal kesalahan atau error. Selama error belum nol, kontroler terus bekerja menyesuaikan keluarannya hingga kondisi yang diinginkan tercapai.


Mengenal Tiga Parameter dalam Kontrol PID

PID adalah singkatan dari Proportional, Integral, Derivative tiga komponen yang masing-masing punya peran berbeda dalam membentuk respons sistem. Cara paling mudah untuk memahaminya adalah lewat analogi memasak air. Kita ingin suhu air stabil di angka 90°C. Saat kompor baru dinyalakan dan suhu masih jauh dari target, ada tiga "cara berpikir" berbeda yang bekerja bersamaan.


Proportional (P) adalah komponen yang langsung merespons seberapa besar error saat ini. Semakin jauh suhu dari target, semakin besar pula daya yang diberikan. Ini terasa intuitif wajar kalau kita menaikkan api lebih besar saat suhu masih sangat rendah. Namun komponen P punya kelemahan: ia sering meninggalkan selisih kecil yang tidak bisa diatasi sendiri, yang dikenal sebagai offset.


Integral (I) hadir untuk menyelesaikan masalah offset tadi. Ia mengakumulasi error dari waktu ke waktu. Kalau suhu terus saja kurang 1–2 derajat dari target dan P tidak mampu mengoreksinya, I akan terus "mencatat" kekurangan itu dan menambah koreksi secara bertahap sampai suhu benar-benar mencapai setpoint. Kenaikannya memang lebih lambat dibanding P, tapi hasilnya lebih akurat.


Derivative (D) bekerja dengan cara yang berbeda ia melihat seberapa cepat error berubah, bukan seberapa besar. Kalau suhu naik dengan sangat cepat dan berpotensi melampaui target, D akan memberi sinyal untuk mengerem sebelum terjadi overshoot. Komponen ini tidak pernah digunakan sendiri karena ketika error konstan, keluaran D akan bernilai nol seolah tidak ada masalah, padahal error tetap ada. Dengan menggabungkan ketiga komponen ini, sistem PID bisa merespons dengan cepat, akurat, dan stabil sekaligus.


Gambar: ilustrasi sistem PID
Sumber: wevolver.com

Pengaruh Tuning PID terhadap Perilaku Sistem

Memiliki kontroler PID saja tidak cukup. Yang menentukan apakah sistem bekerja dengan baik atau justru tidak stabil adalah proses tuning yaitu menyetel nilai Kp (gain proporsional), Ki (gain integral), dan Kd (gain derivatif) secara tepat. Setiap perubahan pada nilai-nilai ini berdampak langsung pada respons sistem. Ketika nilai Kp terlalu kecil, sistem merespons lambat dan koreksi yang dilakukan tidak cukup kuat. Sebaliknya, jika Kp dinaikkan terlalu tinggi, sistem justru berosilasi keluarannya naik turun tidak karuan dan sulit stabil. Itu sebabnya kenaikan Kp harus dilakukan secara bertahap.


Nilai Ki yang terlalu besar memang mempercepat hilangnya offset, tapi juga membuat sistem rentan terhadap osilasi yang berkepanjangan. Sementara itu, komponen D sangat sensitif terhadap noise atau gangguan dari sinyal sensor nilai Kd yang berlebihan bisa membuat sinyal kontrol "bergetar" dan justru merusak kestabilan sistem. Untuk menyetel PID secara sistematis, salah satu metode yang paling banyak digunakan adalah Metode Ziegler-Nichols. Metode ini dikembangkan sejak 1942 dan bekerja berdasarkan reaksi plant terhadap perubahan tertentu tanpa memerlukan model matematis yang rumit.


Ada dua pendekatan: metode kurva reaksi (berbasis respons loop terbuka) dan metode osilasi (berbasis respons loop tertutup). Kedua metode ini memberikan titik awal penyetelan Kp, Ti, dan Td yang kemudian bisa diperhalus sesuai kebutuhan sistem. Selain Ziegler-Nichols, ada juga metode trial and error yang lebih fleksibel namun membutuhkan waktu lebih lama, serta metode auto-tuning yang tersedia di beberapa PLC dan mikrokontroler modern.


Penerapan Kontrol PID dalam Kehidupan Nyata

Kontrol PID bukan hanya teori di atas kertas. Ia ada di sekitar kita, bekerja di balik layar berbagai perangkat yang kita andalkan sehari-hari. AC otomatis adalah contoh paling dekat. Sensor suhu membaca temperatur ruangan, lalu kontroler menghitung error terhadap setpoint yang sudah ditentukan dan menyesuaikan kerja kompresor. Hasilnya, suhu ruangan terjaga stabil tanpa harus ada orang yang terus mengatur thermostat.


Contoh lain yang lebih teknis adalah oven industri. Pabrik pengolahan makanan, misalnya, memerlukan suhu konstan 180°C selama berjam-jam untuk pengeringan produk. Di sini, kontroler PI (tanpa komponen D) sering dipilih karena sistem suhu tidak memerlukan reaksi terhadap perubahan yang sangat cepat.


Saat oven mulai menyala, komponen P bekerja keras untuk mendorong suhu naik dengan cepat. Setelah mendekati target, komponen I mengambil alih untuk mengoreksi sisa selisih yang tertinggal. Hasilnya: suhu stabil, energi efisien, dan kualitas produk konsisten. Di luar itu, PID juga digunakan pada drone untuk menjaga keseimbangan, mesin CNC untuk mengontrol posisi alat pemotong, sistem adaptive cruise control pada kendaraan, hingga sistem irigasi otomatis berbasis sensor kelembaban tanah.


Kesalahan Umum yang Sering Terjadi Saat Menggunakan PID

Meski konsepnya logis, banyak pemula yang menghadapi masalah saat pertama kali mencoba mengimplementasikan PID. Beberapa kesalahan ini berulang dengan pola yang sama. Menggunakan parameter default tanpa penyesuaian adalah yang paling sering terjadi. Setiap sistem memiliki karakteristik berbeda apa yang bekerja untuk kontrol suhu belum tentu cocok untuk kontrol kecepatan motor. Menggunakan nilai Kp, Ki, Kd secara sembarangan hampir selalu berujung pada sistem yang tidak stabil atau tidak responsif.


Mengabaikan integral windup juga menjadi masalah klasik. Ketika sistem mengalami error yang besar dalam waktu panjang misalnya saat pertama kali dinyalakan komponen I terus mengakumulasi nilai tanpa batas. Ketika akhirnya error berkurang, nilai integral yang sudah terlanjur besar ini membuat sistem bereaksi berlebihan dan sulit kembali stabil. Solusinya adalah menerapkan pembatasan pada nilai integral (anti-windup). Menggunakan komponen D tanpa filter juga sering menjadi bumerang, terutama jika sinyal sensor memiliki noise.


Komponen D sangat sensitif terhadap perubahan cepat noise pada sensor pun akan dianggap sebagai sinyal yang perlu direspons, sehingga keluaran kontroler jadi tidak karuan. Nilai Kd sebaiknya disetel kecil, dan jika perlu, tambahkan filter pada sinyal sebelum masuk ke komponen D. Langsung menyetel semua parameter sekaligus adalah kesalahan yang terlihat sepele tapi dampaknya besar. Pendekatan yang lebih efektif adalah menyetel P terlebih dahulu, lalu tambahkan I, dan baru terakhir D satu per satu, sambil mengamati bagaimana sistem bereaksi di setiap langkahnya.


Kapan Sebaiknya Menggunakan P, PI, atau PID?

Tidak semua situasi memerlukan kontroler PID penuh. Memilih kombinasi yang tepat tergantung pada kebutuhan sistem. Kontroler P saja cocok untuk sistem sederhana yang tidak memerlukan akurasi tinggi dan masih bisa mentolerir adanya offset kecil. Kontroler PI adalah pilihan paling umum untuk sistem yang butuh akurasi seperti kontrol suhu atau tekanan di mana respons tidak perlu terlalu cepat.


Kontroler PID penuh digunakan untuk sistem yang kompleks, bergerak cepat, dan membutuhkan presisi tinggi, seperti drone, robot industri, atau sistem servo. Yang perlu diingat: menambahkan komponen D tidak selalu membuat sistem lebih baik. Kalau sistem tidak memerlukan antisipasi terhadap perubahan cepat, mengaktifkan D hanya menambah kompleksitas tanpa manfaat yang berarti bahkan bisa memperburuk kestabilan jika noise sensor cukup tinggi. Semoga bermanfaat dan selamat berkarya!


PT. Karya Merapi Teknologi

 

Follow sosial media kami dan ambil bagian dalam berkarya untuk negeri!


Sumber:


Comments


Kami fokus dalam mendukung IoT Enthusiast untuk berkarya dan menghasilkan solusi teknologi, dari dan untuk negeri. Dalam perjalanannya, kami percaya bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa.

Phone: +62 813-9666-9556

Email: contact@kmtech.id

Location: Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55752

RESOURCES

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn

© 2023 by KMTek

bottom of page