Mengapa Keamanan Zero Trust Penting untuk Ekosistem IoT yang Terhubung ?
- Atista Dwi zahra
- Jul 1
- 4 min read

Di era digitalisasi yang semakin pesat, Internet of Things (IoT) telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, mulai dari perangkat rumah pintar hingga sensor industri yang mengumpulkan dan mentransmisikan data secara terus-menerus. Meskipun memberikan manfaat yang tidak terbantahkan, kerentanan keamanan perangkat IoT menimbulkan ancaman signifikan bagi individu, organisasi, dan infrastruktur kritis. Model keamanan Zero Trust muncul sebagai solusi paradigmatik yang mengasumsikan bahwa tidak ada perangkat atau pengguna yang dapat dipercaya secara otomatis, baik di dalam maupun di luar jaringan.
Tantangan Keamanan dalam Ekosistem IoT
Ekosistem IoT modern menghadapi berbagai tantangan keamanan yang kompleks. Perangkat IoT yang tidak aman rentan terhadap akses tidak sah, yang dapat menyebabkan pelanggaran data potensial melalui eksploitasi mekanisme autentikasi yang lemah atau akses melalui saluran komunikasi yang tidak terlindungi dengan baik.
Risiko utama yang terkait dengan perangkat IoT yang tidak aman meliputi serangan botnet, di mana perangkat IoT yang tidak aman sering dijadikan target untuk pembuatan botnet yang dapat digunakan untuk serangan siber skala besar seperti Distributed Denial of Service (DDoS). Selain itu, dalam aplikasi IoT kritis seperti sistem kontrol industri dan perangkat medis, perangkat yang terkompromis dapat menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan fisik.
Kerentanan yang paling umum ditemukan dalam perangkat IoT termasuk autentikasi yang lemah, di mana banyak perangkat IoT menggunakan kredensial autentikasi default atau lemah yang membuatnya mudah diserang. Kurangnya enkripsi dalam komunikasi antara perangkat IoT dan cloud menjadi vektor serangan umum, di mana transmisi data yang tidak terenkripsi dapat dicegat dan dimanipulasi oleh penyerang.

Konsep dan Implementasi Zero Trust Architecture
Zero Trust Architecture (ZTA) merupakan pendekatan keamanan revolusioner yang menolak konsep kepercayaan implisit. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan Zero Trust Architecture mampu mengurangi risiko serangan siber secara signifikan, meskipun terdapat sedikit kompromi pada performa jaringan, dengan penurunan throughput sebesar 5% dan peningkatan latency sebesar 5 ms.
Prinsip dasar ZTA meliputi verifikasi eksplisit untuk setiap akses, penggunaan akses dengan hak istimewa terbatas (least privilege access), dan asumsi bahwa setiap permintaan akses berpotensi berbahaya. Kebijakan mikro-segmentasi, multi-factor authentication (MFA), dan least privilege access terbukti efektif dalam meningkatkan stabilitas jaringan dan mencegah akses tidak sah. Implementasi ZTA dalam lingkungan IoT memerlukan pendekatan khusus mengingat karakteristik unik perangkat IoT, termasuk keterbatasan sumber daya komputasi, diversitas protokol komunikasi, dan skala deployment yang masif.
Strategi Keamanan Berlapis untuk IoT
Membangun ekosistem IoT yang aman memerlukan pendekatan multifaset yang menggabungkan berbagai lapisan keamanan. Organisasi harus berinvestasi dalam solusi keamanan yang secara eksplisit disesuaikan untuk tuntutan unik lingkungan IoT, yang menyediakan visibilitas lanjutan ke perangkat IoT serta memastikan kontrol dan kemampuan integrasi yang lebih baik. Strategi keamanan berlapis mencakup implementasi mekanisme pertahanan terdistribusi di berbagai lapisan ekosistem IoT, meliputi perangkat, jaringan, aplikasi, dan data.
Pendekatan berlapis ini meningkatkan ketahanan dengan menciptakan multiple barrier terhadap ancaman siber potensial, mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran yang berhasil. Kriptografi yang kuat menjadi landasan keamanan IoT, di mana organisasi harus menggunakan algoritma enkripsi yang robust untuk mengamankan komunikasi data, autentikasi perangkat, dan manajemen identitas perangkat. Enkripsi menambahkan lapisan perlindungan tambahan yang membuat penjahat dunia maya jauh lebih sulit untuk mencegat dan mengeksploitasi informasi sensitif.

Implementasi Zero Trust dalam Konteks Indonesia
Pengembangan framework Zero Trust untuk ekosistem IoT di Indonesia menghadapi tantangan khusus terkait dengan infrastruktur teknologi yang beragam dan tingkat kematangan digital yang bervariasi antar sektor. Simulasi yang dilakukan dengan menggunakan alat iperf dan Wireshark untuk mengukur performa jaringan menunjukkan efektivitas ZTA dalam menghadapi serangan man-in-the-middle, DDoS, dan ancaman orang dalam. Implementasi praktis memerlukan adaptasi terhadap kondisi lokal, termasuk integrasi dengan sistem legacy yang masih banyak digunakan dalam infrastruktur kritis Indonesia.
Pendekatan bertahap menjadi kunci, dimulai dari sektor-sektor prioritas seperti perbankan, energi, dan telekomunikasi sebelum diperluas ke sektor lainnya. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan academia menjadi esensial untuk mengembangkan standar dan best practices yang sesuai dengan konteks Indonesia, termasuk pengembangan regulasi yang mendukung implementasi Zero Trust sambil mempertimbangkan aspek privasi dan sovereignty data.
Monitoring Berkelanjutan dan Intelligence Ancaman
Identifikasi proaktif dan mitigasi risiko keamanan memerlukan monitoring berkelanjutan dan akses terhadap threat intelligence, di mana pemindaian kerentanan reguler, monitoring aktivitas perangkat untuk perilaku anomali, dan tetap terinformasi tentang ancaman yang muncul memungkinkan organisasi untuk merespons dengan cepat terhadap insiden keamanan potensial.
Implementasi sistem monitoring yang efektif dalam ekosistem IoT memerlukan solusi yang mampu menangani volume data yang massive dan beragam yang dihasilkan oleh jutaan perangkat terhubung. Teknologi machine learning dan artificial intelligence menjadi enabler kunci untuk menganalisis pola traffic, mendeteksi anomali, dan mengidentifikasi ancaman secara real-time.
Threat intelligence yang kontekstual dan actionable membantu organisasi memahami landscape ancaman yang terus berkembang, memungkinkan adaptasi strategi keamanan secara dinamis sesuai dengan perkembangan taktik, teknik, dan prosedur yang digunakan oleh threat actors. Zero Trust Architecture telah menunjukkan potensi sebagai solusi untuk mengatasi tantangan keamanan dalam ekosistem IoT.
Hasil penelitian mengindikasikan bahwa implementasi ZTA dapat mengurangi risiko serangan siber, meskipun dengan sedikit dampak pada performa jaringan. Pendekatan berlapis yang mengintegrasikan teknologi keamanan khusus IoT, monitoring berkelanjutan, dan kebijakan akses yang ketat terbukti memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan model keamanan tradisional. Adaptasi ZTA dalam konteks lokal memerlukan pertimbangan khusus terhadap infrastruktur yang ada dan tingkat kematangan digital organisasi. Kolaborasi antara berbagai stakeholder dan pengembangan kapabilitas SDM menjadi faktor pendukung dalam implementasi yang berhasil. . Semoga bermanfaat dan selamat berkarya!
PT. Karya Merapi Teknologi
Follow sosial media kami dan ambil bagian dalam berkarya untuk negeri!
Instagram: https://www.instagram.com/kmtek.indonesia/
Facebook: https://www.facebook.com/kmtech.id
LinkedIn: https://www.linkedin.com/company/kmtek
Sumber:
Comments