top of page
Search

Memahami Hubungan Hardware dan Software dalam Sistem Embedded


Fondasi Hardware dan Software dalam Sistem Embedded

Berbicara soal sistem embedded, dua elemen yang paling sering disebut bersamaan adalah hardware dan software, keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Sistem embedded, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai sistem tertanam, adalah sebuah perangkat komputasi khusus yang dirancang untuk menjalankan satu atau sekelompok fungsi tertentu dalam sebuah sistem yang lebih besar. Berbeda dari komputer serba guna yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, sistem embedded bekerja secara fokus yaitu mendeteksi, memproses, dan merespons semuanya dalam satu siklus yang berulang. Contohnya ada di mana-mana, mulai dari mesin cuci di rumah, sistem rem pada kendaraan, hingga alat pantau detak jantung di rumah sakit.


Komponen hardware dalam sistem embedded mencakup prosesor atau mikrokontroler sebagai pusat pengolahan data, memori (RAM untuk data sementara dan flash/EEPROM untuk penyimpanan permanen), sensor sebagai pembaca kondisi fisik lingkungan, aktuator sebagai pengeksekusi perintah, serta modul komunikasi yang menghubungkan sistem dengan dunia luar melalui protokol seperti I2C, SPI, UART, atau secara nirkabel via Wi-Fi dan Bluetooth. Semua komponen ini dipilih dan dirancang sesuai kebutuhan spesifik aplikasinya. Tidak ada satu konfigurasi hardware yang berlaku universal; setiap sistem embedded lahir dari kebutuhan yang berbeda.


Firmware: Perangkat Lunak yang Hidup di Dalam Mesin

Jika hardware adalah tubuh, maka firmware adalah sistem saraf yang menggerakkannya. Firmware adalah perangkat lunak yang tersimpan dalam memori non-volatile artinya, ia tetap ada meskipun perangkat dimatikan. Begitu sistem embedded dinyalakan, firmware langsung bekerja: menginisialisasi mikrokontroler, mengonfigurasi semua periferal, menjalankan diagnostik awal, kemudian masuk ke dalam loop utama yang terus berjalan selama perangkat aktif.


Hal yang membedakan firmware dari perangkat lunak biasa adalah kedekatannya dengan hardware. Firmware berkomunikasi langsung dengan register dan antarmuka memory mapped. Bayangkan sebuah sensor suhu terpasang pada mikrokontroler firmware membaca nilai dari register sensor, memprosesnya, lalu mengirimkan perintah ke aktuator, misalnya menyalakan kipas pendingin. Semua itu terjadi dalam milidetik, dan harus terjadi pada waktu yang tepat. Inilah yang disebut sistem real-time: ketepatan waktu bukan sekadar nilai tambah, melainkan syarat mutlak.


Dalam sistem yang lebih kompleks, firmware mengandalkan RTOS (Real-Time Operating System) untuk mengatur penjadwalan tugas. RTOS memastikan bahwa setiap proses berjalan dalam rentang waktu yang telah ditentukan, sehingga sistem dapat berperilaku secara konsisten dan dapat diprediksi. Tanpa manajemen waktu yang tepat, sebuah sistem embedded yang terlihat benar di atas kertas bisa gagal total saat diuji di kondisi nyata.


Gambar: Monitor komputer dikelilingi ikon berbagai aplikasi software, menggambarkan peran perangkat lunak sebagai pengendali sistem di atas hardware.
Sumber: tempo.co

Bagaimana Hardware dan Software Saling Berinteraksi

Inti dari cara kerja sistem embedded sesungguhnya terletak pada bagaimana hardware dan software saling berinteraksi secara terus-menerus. Interaksi ini bukan sekadar software yang "memerintah" hardware, melainkan sebuah percakapan dua arah yang berlangsung sangat cepat. Hardware menghasilkan sinyal, interrupt, dan data; software membaca, menafsirkan, lalu merespons. Penelitian yang dilakukan oleh Silfia Rifka, Firdaus, dan Waldito Febri Ramadhan dari Politeknik Negeri Padang, yang diterbitkan dalam Jurnal Rekayasa Elektrika (Vol. 14, No. 1, 2018), memberikan gambaran konkret tentang mekanisme ini.


Dalam penelitian tersebut, tim peneliti membangun sebuah sistem pintar pengendali multi perangkat berbasis Intel Galileo Gen 2. Sistem ini mengendalikan lampu LED, AC, IP camera, dan LCD proyektor dalam ruang kelas secara terpusat melalui satu modul mikrokontroler, dengan antarmuka web yang dapat diakses dari smartphone, tablet, maupun laptop. Sisi hardware-nya adalah modul Intel Galileo yang menggabungkan arsitektur mikrokontroler dengan kemampuan mini komputer berbasis Linux. Sisi software-nya adalah program pengendali yang mengelola logika otomatis misalnya, lampu dan AC menyala secara otomatis ketika sensor inframerah mendeteksi orang masuk ke ruangan, dan sebaliknya.


Apa yang membuat studi kasus ini menarik adalah bagaimana sistem harus menangani sinyal PWM (Pulse Width Modulation) untuk mengatur intensitas cahaya lampu secara bertahap. Hardware menghasilkan sinyal digital, dan firmware menginterpretasikan nilai duty cycle untuk menentukan seberapa terang lampu menyala. Ini bukan sekadar on/off ini adalah koordinasi presisi antara dua lapisan sistem yang berbeda. Tanpa sinkronisasi yang baik antara logika software dan karakteristik hardware, hasil akhirnya tidak akan sesuai harapan.


Ketika Sinkronisasi Gagal: Pelajaran dari Kasus Nyata

Kegagalan sistem embedded akibat ketidaksinkronan antara hardware dan software bukan sekadar teori. Sejarah mencatat beberapa insiden besar yang terjadi karena kedua lapisan ini tidak berjalan selaras. Salah satu yang paling sering dikutip adalah kasus mesin terapi radiasi Therac-25 pada pertengahan 1980-an. Perangkat itu menewaskan beberapa pasien karena kondisi race condition dalam kodenya software berasumsi bahwa hardware sudah siap, padahal magnetnya belum dalam posisi yang benar. Akibatnya, radiasi dosis penuh ditembakkan langsung ke tubuh pasien tanpa perlindungan.


Kasus lain adalah kegagalan roket Ariane 5 pada peluncuran perdananya tahun 1996. Roket senilai ratusan juta dolar itu hancur hanya 37 detik setelah lepas landas karena kode yang diwarisi dari sistem Ariane 4 mencoba mengkonversi nilai 64-bit ke variabel 16-bit sebuah overflow yang tidak tertangani. Perangkat lunak tidak dirancang untuk spesifikasi hardware yang berbeda, dan tidak ada mekanisme pengamanan yang memadai. Dua kasus ini menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara asumsi software dan realitas hardware dapat berujung pada konsekuensi yang jauh melampaui sekadar kerusakan perangkat.


Dalam konteks pengembangan modern, masalah sinkronisasi ini masih relevan. Isu-isu seperti konflik timing, protokol komunikasi yang tidak stabil, manajemen memori yang buruk, dan kegagalan yang sulit direproduksi masih menjadi tantangan nyata dalam pengembangan firmware. Oleh karena itu, pendekatan pengujian berlapis mulai dari unit testing, integration testing, hingga Hardware-in-the-Loop (HIL) testing menjadi bagian yang tidak bisa dilewati dalam siklus pengembangan sistem embedded.


Pendekatan Co-Design: Merancang Keduanya Secara Bersamaan

Salah satu pergeseran penting dalam industri sistem embedded adalah kesadaran bahwa hardware dan software tidak boleh dirancang secara terpisah. Pendekatan yang kini banyak diadopsi adalah hardware-software co-design, yaitu proses perancangan yang mempertimbangkan keduanya secara simultan sejak awal pengembangan. Firmware, misalnya, idealnya sudah mulai didiskusikan bersamaan dengan desain sirkuit, bukan setelah papan sirkuit selesai diproduksi.


Menunggu hardware selesai sebelum menulis software adalah pola lama yang sudah terbukti menimbulkan banyak masalah di kemudian hari baik dalam hal kompatibilitas, keterbatasan desain, maupun biaya perbaikan. Sebaliknya, jika tim hardware dan tim software bekerja secara paralel dengan komunikasi yang terstruktur, potensi konflik dapat dideteksi lebih awal, sebelum menjadi masalah yang mahal untuk diperbaiki. Ini bukan hanya soal efisiensi waktu, tetapi juga tentang kualitas sistem secara keseluruhan.


Kompleksitas sistem embedded modern yang kini mencakup konektivitas IoT, kecerdasan buatan di tingkat perangkat, serta kebutuhan keamanan siber yang ketat membuat pendekatan co-design bukan lagi sekadar praktik terbaik, melainkan keharusan. Sistem yang dibangun tanpa visi terpadu antara hardware dan software akan menghadapi tantangan yang semakin besar seiring bertambahnya kompleksitas.


Mengapa Pemahaman Keduanya Tidak Bisa Ditawar

Seorang insinyur sistem embedded yang hanya mahir di satu sisi entah itu hardware saja atau software saja akan selalu menghadapi celah dalam pekerjaannya. Sistem embedded tidak bisa dipahami secara setengah-setengah karena permasalahan yang muncul di lapangan hampir selalu melibatkan keduanya. Ketika sebuah perangkat berperilaku tidak sesuai harapan, jawabannya bisa ada di logika firmware, di karakteristik komponen hardware, atau justru di titik di mana keduanya bertemu.


Pemahaman mendalam tentang mikrokontroler, memori, protokol komunikasi, interrupt, dan manajemen daya adalah bekal yang dibutuhkan untuk merancang firmware yang andal. Di sisi lain, pemahaman tentang bagaimana software berperilaku pada kondisi batas tertentu, bagaimana mengelola konkurensi, dan bagaimana menguji sistem secara holistik adalah hal yang tidak kalah penting. Kedua dimensi ini saling melengkapi, bukan bersaing.


Sistem embedded hadir di hampir setiap aspek kehidupan modern: kendaraan otonom, perangkat medis, infrastruktur jaringan, sistem smart home, hingga industri manufaktur. Tingkat akurasi dan keandalan yang dituntut dari sistem-sistem ini tidak memberikan ruang untuk ketidaktahuan. Oleh sebab itu, pemahaman yang utuh tentang hubungan antara hardware dan software bukan sekadar nilai tambah bagi seorang insinyur ini adalah fondasi dari pekerjaan itu sendiri. Semoga bermanfaat dan selamat berkarya!


PT. Karya Merapi Teknologi

 

Follow sosial media kami dan ambil bagian dalam berkarya untuk negeri!



Sumber:



Comments


Kami fokus dalam mendukung IoT Enthusiast untuk berkarya dan menghasilkan solusi teknologi, dari dan untuk negeri. Dalam perjalanannya, kami percaya bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa.

Phone: +62 813-9666-9556

Email: contact@kmtech.id

Location: Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55752

RESOURCES

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn

© 2023 by KMTek

bottom of page