top of page
Search

Mengenal PBO: Cara Berpikir Baru dalam Dunia Pemrograman



Gambar: sistem PBO
Sumber: medium.com

Dulu, ketika seseorang belajar pemrograman untuk pertama kali, hampir pasti ia akan berkenalan dengan pendekatan prosedural menulis instruksi dari atas ke bawah, satu per satu, seperti resep masakan. Cara ini memang masuk akal untuk program-program kecil. Tapi seiring waktu, ketika sistem menjadi lebih kompleks dan tim pengembang semakin besar, pendekatan itu mulai terasa tidak cukup. Di sinilah Pemrograman Berorientasi Objek hadir bukan sebagai tren, melainkan sebagai solusi nyata atas keterbatasan yang ada.


Apa Itu Pemrograman Berorientasi Objek?

Pemrograman Berorientasi Objek, atau yang sering disebut OOP (Object-Oriented Programming), adalah metode pemrograman yang menjadikan objek sebagai pusat dari keseluruhan struktur program. Setiap objek merepresentasikan sesuatu dari dunia nyata bisa berupa pengguna, kendaraan, transaksi, atau apa pun yang relevan dengan sistem yang sedang dibangun.


Menurut BINUS University, OOP bertujuan mempermudah pekerjaan programmer dengan mengikuti model yang sudah ada di kehidupan sehari-hari, sehingga pemrograman menjadi lebih fleksibel dan dapat digunakan dalam skala besar. Dalam sebuah program, objek-objek yang lebih kecil saling berkomunikasi dan bertukar informasi untuk mencapai hasil akhir yang diinginkan. Pendekatan ini berbeda secara mendasar dari cara lama. Bukan lagi soal "apa langkah selanjutnya?", melainkan "siapa yang bertanggung jawab atas tugas ini?".


Class dan Object: Dua Konsep yang Tidak Bisa Dipisahkan

Untuk memahami OOP, dua istilah pertama yang harus dikuasai adalah class dan object. Keduanya saling berkaitan erat, tapi punya peran yang berbeda. Class adalah cetak biru (blueprint) atau rancangan dari sebuah objek. Ia mendefinisikan tipe, mendeklarasikan variabel, dan menjadi dasar untuk menciptakan objek. Bayangkan class seperti desain arsitektur sebuah rumah satu desain bisa menghasilkan banyak rumah dengan karakteristik yang serupa.


Sementara itu, object adalah wujud nyata dari class tersebut. Setiap objek memiliki dua karakteristik utama: attribute (data atau identitas objek, disebut juga sebagai variabel) dan behavior (perilaku yang dilakukan objek di dalam program, disebut juga sebagai method). Jika class adalah desain rumah, maka objek adalah rumah yang sudah berdiri nyata, bisa ditempati, dan punya kondisi tersendiri. Dalam praktiknya, satu class bisa melahirkan banyak objek sekaligus. Misalnya, dari satu class Mahasiswa, kita bisa menciptakan ratusan objek mahasiswa yang masing-masing punya nama, NIM, dan nilai yang berbeda.

Gambar: sistem PBO
Sumber: medium.com

Tiga Pilar PBO yang Wajib Dipahami

Inilah bagian yang sering membuat orang merasa OOP itu rumit padahal kalau dipahami satu per satu, konsepnya sebenarnya cukup logis. Dalam PBO, ada tiga prinsip utama yang menjadi fondasi: enkapsulasi, inheritance, dan polimorfisme.


  1. Enkapsulasi

adalah konsep membungkus data dan method menjadi satu unit sehingga tidak bisa diakses sembarangan dari luar. Cara kerjanya mirip seperti mesin ATM pengguna cukup memasukkan kartu dan PIN, lalu mesin memproses semuanya di balik layar. Kita tidak perlu tahu, dan memang tidak boleh langsung mengakses, mekanisme internalnya. Enkapsulasi menggunakan access modifier seperti private, protected, dan public untuk mengontrol siapa yang boleh mengakses apa.


  1. Inheritance

atau pewarisan memungkinkan sebuah class baru untuk mewarisi sifat dan kemampuan dari class yang sudah ada. Sistem ini bersifat hierarkis semakin ke bawah tingkatan kelasnya, semakin spesifik. Contoh sederhananya: class Kendaraan bisa menjadi induk dari class Mobil dan Motor. Kedua class turunan itu mewarisi sifat dasar dari Kendaraan, tapi masing-masing juga punya kekhasan sendiri. Ini membuat pengembang tidak perlu menulis ulang kode yang sama berulang kali.


  1. Polimorfisme

 adalah kemampuan objek yang berbeda untuk merespons perintah yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Dalam praktiknya, ini diwujudkan lewat dua mekanisme: method overriding (mendefinisikan ulang method dari class induk di class turunan) dan method overloading (membuat beberapa versi method dengan nama yang sama tapi parameter yang berbeda). Hasilnya, kode menjadi lebih fleksibel dan tidak kaku.


OOP vs Prosedural: Mana yang Lebih Baik?

Pertanyaan ini sering muncul, terutama di kalangan yang baru belajar pemrograman. Jawabannya bukan soal mana yang unggul secara mutlak, melainkan mana yang lebih tepat digunakan dalam konteks tertentu. Pemrograman prosedural bekerja dengan cara mengeksekusi instruksi secara berurutan, dari baris paling atas ke bawah. Struktur dasarnya hanya terdiri dari tiga pola: berurutan, seleksi, dan pengulangan. Ini membuatnya relatif sederhana untuk dipelajari, efisien untuk program kecil, dan dekat dengan cara mesin memproses perintah. Bahasa-bahasa seperti Pascal, C, Basic, dan Cobol menggunakan paradigma ini.


OOP, di sisi lain, memecah program menjadi objek-objek yang mandiri dan saling berinteraksi. Pendekatan ini lebih cocok untuk proyek yang kompleks dan berskala besar. Namun ada konsekuensinya OOP membutuhkan ruang memori yang lebih besar dan butuh pemahaman dasar pemrograman yang lebih kuat sebelum bisa digunakan secara efektif. Beberapa perbedaan kunci antara keduanya cukup mencolok. Prosedural tidak mengenal access modifier, sementara OOP mengandalkannya untuk menjaga keamanan data.


Prosedural membagi program berdasarkan fungsi, sedangkan OOP memotong-motong program berdasarkan objek yang membawa data sekaligus perilakunya sendiri. Dari sisi pemeliharaan kode, OOP jauh lebih menguntungkan mengubah satu bagian tidak akan mudah merembet ke bagian lain yang tidak berkaitan. Jika sistemnya sederhana dan tidak akan tumbuh besar, prosedural bisa jadi pilihan yang lebih efisien. Tapi ketika kompleksitasnya meningkat dan tim yang terlibat semakin banyak, OOP memberikan struktur yang jauh lebih mudah dikelola.


Gambar: sistem PBO
Sumber: nerd.vision

OOP dalam Kehidupan Nyata

Salah satu keunggulan OOP yang sering diabaikan adalah seberapa dekatnya ia dengan cara manusia memandang dunia. Kita secara alami berpikir dalam kategori objek mobil, rekening bank, pegawai, pesanan belanja. OOP meminjam cara berpikir itu dan menerapkannya ke dalam kode. Ambil contoh sistem perbankan. Setiap nasabah adalah sebuah objek dari class Nasabah, dengan atribut seperti nama, nomor rekening, dan saldo. Setiap transaksi adalah objek dari class Transaksi. Kedua objek ini berinteraksi satu sama lain, tapi masing-masing menyimpan datanya sendiri dan bertanggung jawab atas perilakunya sendiri. Ketika terjadi kesalahan, mudah untuk melacak di mana masalahnya cukup lihat objek mana yang berperilaku tidak semestinya.


Contoh lain yang lebih visual adalah game. Dalam sebuah game, setiap karakter, senjata, musuh, atau item bisa direpresentasikan sebagai objek. Karakter pahlawan dan karakter musuh bisa berbagi class induk Karakter, tapi masing-masing punya method yang berbeda untuk menyerang, bertahan, atau bergerak. Dengan inheritance dan polimorfisme, pengembang game tidak perlu menulis kode yang hampir identik dua kali cukup buat variasinya saja. Di luar dua contoh itu, OOP hadir di hampir semua aplikasi yang kita gunakan sehari-hari. Mulai dari aplikasi e-commerce, sistem manajemen rumah sakit, hingga platform media sosial semuanya dibangun di atas fondasi objek yang saling terhubung.


Mengapa OOP Layak Dipelajari Lebih Dalam

Belajar OOP bukan sekadar menguasai sintaksis bahasa tertentu. Ini soal membentuk cara berpikir yang lebih terstruktur dalam menghadapi masalah. Ketika seseorang terbiasa berpikir dalam kerangka objek, ia akan lebih mudah merancang sistem yang tidak hanya bekerja, tapi juga mudah dikembangkan di masa depan. Fleksibilitas adalah kata kunci di sini. Dengan enkapsulasi, data terlindungi. Dengan inheritance, kode bisa digunakan kembali tanpa pengulangan yang sia-sia.


Dengan polimorfisme, satu antarmuka bisa melayani banyak kebutuhan yang berbeda. Tiga prinsip ini bersama-sama membuat sistem yang dibangun dengan OOP jauh lebih mudah diperluas dan dipelihara dibanding sistem prosedural yang cenderung monolitik. Dalam konteks industri pengembangan perangkat lunak saat ini, hampir semua bahasa pemrograman modern Java, Python, PHP, C++, hingga Ruby mendukung paradigma OOP. Artinya, memahami OOP bukan pilihan tambahan, melainkan bekal yang hampir pasti dibutuhkan siapa pun yang ingin serius terjun ke dunia pemrograman. Semoga bermanfaat dan selamat berkarya!


PT. Karya Merapi Teknologi

 

Follow sosial media kami dan ambil bagian dalam berkarya untuk negeri!



Sumber:


Comments


Kami fokus dalam mendukung IoT Enthusiast untuk berkarya dan menghasilkan solusi teknologi, dari dan untuk negeri. Dalam perjalanannya, kami percaya bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa.

Phone: +62 813-9666-9556

Email: contact@kmtech.id

Location: Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55752

RESOURCES

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook
  • LinkedIn

© 2023 by KMTek

bottom of page